Alkisah, setelah bel tanda berakhirnya jam kerja dibunyikan, biasanya saya tidak langsung pulang, ada sebuah warung kecil di depan gedung yang biasa saya dan rekan-rekan saya sambangi. Saya bersama rekan-rekan, sebut saja gilang, beni dan nanda, sambil membakar tembakau biasanya diselingi dengan cerita-cerita, dari kerjaan sampai masalah wanita,haha

Kebetulan nanda sebentar lagi mau melepas masa lajangnya, dia bercerita bagaimana dia ketemu sama yang dia yakini sebagai jodohnya, nanda ini sebenernya sering ngomong kotor tapi dibalik itu dia sebenernya bisa dikatakan bijaksana lah, ada kata-katanya yang saya suka waktu itu

“Lu bakalan tau ada perasaan ketika bertemu jodoh lu, disini (sambil nunjuk dada) cuma bisa bilang ‘ini jodoh gue’ tapi ngga tau kenapa itu ngga bisa dijelaskan, pokoknya tau aja, susah dideskripsikan lah”

Lalu kita handshake bro nanda ini, sebagai tanda salut.

Tak lama kemudian ada yang datang, sebut saja opung, beliau sudah cukup senior lah dikantor tapi masih suka bergaul dengan yang muda-muda, walau hanya sekedar sebagai teman merokok atau bercerita. Rugi rasanya kalo ngga mendengar cerita dari yang sudah berpengalaman, opung ini sudah lama menikah dan sudah berhasil menghasilkan 4 buah hati. Kita akhirnya minta opung untuk bercerita, dari dia ketemu istrinya dulu.

Sangat panjang ceritanya, penuh dengan pelajaran hidup, tapi opung sendiri bilang ceritanya mirip kaya di sinetron. Beliau bercerita dari bagaimana akhirnya dia memilih istrinya sekarang yang pada saat itu dia berpacaran dengan 2 orang wanita, permsalah rumah tangga, mertua sampai anak-anaknya, sungguh pelajaran hidup yang menarik. Tapi dari semua ceritanya yang paling lekat dipikiran adalah ceritanya yang terakhir.

“Kalo saya ditanya sekarang apakah saya masih cinta sama istri saya, saya bilang saya sudah nggak cinta”

Reaksi kamipun sejenak kaget, tapi dia melanjutkan

“Yang saya rasakan adalah kasih sayang, lebih diatas cinta, saya selalu melindungi keluarga saya, apapun saya lakukan buat mereka”

Akhirnya kita terpukau dan langsung menjabat tangannya, handshake istilah kita sebagai tanda penghargaan. Ada benarnya juga, yang dia rasakan bukan lagi cinta, tapi lebih dari itu, sebut saja kasih sayang, sama seperti perasaan ke keluarga kita kalau kita belum menikah, ke saudara kandung kita. Apa iya kita chatting sayang-sayangan sama mereka, tapi dihati kita sama-sama tau, kita lebih dari sayang ke mereka. Ada perasaan yang lebih tinggi dari cinta, tapi untuk mencapai itu kita memang harus melalui tangga cinta yang penuh dengan drama dan prahara.