“Sep, kenapa musik korea susah diterima di indonesia, atau kenapa musik indonesia ga bisa seperti musik korea yang banyak variasainya, orang indonesia malah sukanya musik yang rumit kayak jazz atau musik-musik indie, kaya kamu sama ernes lah ” Ujar mas septopotamus saat kita sedang menonton tayangan korea lewat tv kabel kepunyaan pak gendut. Mas septo ini memang pria penyuka korea, diliat dari wallpaper dan background chrome berbaris gadis-gadis cantik dari grup snsd. Kalo saya sih nonton korea karena gadis-gadisnya saja yang enak dipandang mata, ga peduli apa yang diomongin. Yang penting mata terpuaskan dengan pemandangan yang indah,hahaha

“kata siapa mas, banyak kok orang indonesia yang dengerin k-pop, cuma mungkin orang-orang disekitarmu memang ngga terlalu suka” Ya memang saya ngga teralalu suka dengerin musik korea.

“kalo buat aku mas, musik itu bukan cuma sekedar alunan nada, tapi aku juga harus tau pesan yang disampaikan lewat liriknya, aku ga bisa dengerin musik korea kalo aku ga tau arti liriknya, emang musiknya bagus, tapi tetep ga bisa masuk, kecuali kalo aku orang korea yang dari tk udah fasih ngomong korea, bayangin kalo ternyata musik korea yang kamu dengerin ternyata bercerita tentang nenek-nenek yang sedang galau karena baru mengalami pubertas keduanya.¬†Aku ga tau sih kalo ernes, tapi aku kenapa suka efek rumah kaca atau barasuara misalnya, ya karena selain musiknya yang bagus juga liriknya memang luar biasa, barasuara misalnya, liriknya sungguh sadis,wiiiiiiiii”

Akhir-akhir ini memang lantunan barasuara selalu saya dengarkan, liriknya, puisi yang indah dibawakan dengan nada yang elok. Efek rumah kaca denga album barunya sinestesia, yang membawakan konsep yang berbeda. Kalo efek rumah kaca saya dengarkan setiap hari juga buat persiapan konsernya tanggal 13 januari nanti.

“Kalo masalah musik indonesia ngga bisa berkembang sih mungkin karena kurangnya apresiasi aja di indonesia, kalo k-pop, lihat saja mas,¬†apresiasinya luar biasa, dinegaranya ataupun di luar.” Tapi sayang obrolan saya dengan mas septo harus berakhir dengan datangnya bang gojek yang siap mengantar saya pulang ke kost, padahal lagi asik-asiknya ngobrol.

Masalah apresiasi emang susah di indonesia, dijaman digitalisasi sekarang musik sudah sangant mudah didapatkan lewat internet. Hanya sedikit orang yang masih bisa membeli CD original, apalagi ditambah tutupnya raksasa toko cd, harapan mereka bisa beli kepingan cd hanya di angkringan mbah jenggot (sebutan kamu untuk penjual ayam goreng krispi yang logonya mbah2).

Ketika masih jaya-jayanya kaset tape, banyak musisi yang bisa kaya karena lagunya terjual sampai jutaan keping dan biar tetap mendapat pundi-pundi uang, mereka pun terus berkreasi dan memang musik-musik pada saat itu bagus-bagus. Bukan berarti musik indonesia yang seakarang tidak sebagus dulu. Bahkan banyak lagu-lagu dari jaman sekarang tak kalah bagusnya. Tapi mereka juga butuh uang agar tetap hidup sehingga terus berkreasi, sampai rela melakukan “lipsync” dengan penari latar belakang anak-anak alay di acara musik di stasiun televisi nasional indonesia. Laaah acara musik indonesia aja kayak gitu gimana bisa maju, tapi biarlah orang bebas nyari duit.

Banyak dari musisi saat ini mencari uang dengan mengadakan konser atau kegiatan-kegiatan offline lainnya karena tidak bisa mengandalkan dari penjualan kepingan cd. Pernah saat itu RBT booming di indonesia, banyak musisi yang mendapatkan getahnya, tambahan uang dari provider yang memasang rbt dari karyanya. Tapi apa asiknya menikmati musik dari RBT? Dan musik yang kita beli juga ga bisa dinikmati sendiri, orang lain yang nelpon kita yang menikmati, padahal musik kan untuk dinikmati. Yang ada kita pinjem hp gebetan buat nelpon ke hp kita sendiri cuma buat dengerin rbt yang kita beli.

Tapi musisi sekarang sudah makin kreatif untuk menjual karyanya, dari packaging kaset mereka yang menarik-menarik sampai mereka bisa berjualan di i-tunes. Tapi sekali lagi, masih kurang apresiasi masyarakat untuk musik indonesai, masih sedikit yang membeli lewat i-tunes. Mereka lebih memilih download di situs-situs yang untuk mendownload mp3 aja susahnya minta ampun, banyak iklannya yang harus kita klik terlebih dahulu.

Tebak siapa yang dapat keuntukngan dari iklan yang ‘tidak sengaja’ kita klik itu? Pemilik situsnya dong, buat musisi yang membuat musik yang kita download mp3nya? entahlah