“Dont judge my path if you haven’t walked my journey”

Baiklah, dulu saya sempat setuju dengan peryataan itu, apa urusanmu berani-beraninya menghakimi saya, begitu pembelaan saya. Memang tidak salah, tapi seiring waktu berlalu saya pun belajar, ngurusin orang yang ngomongin kita cuma bakalan buang-buang waktu saja dan bikin bahagia melebur bersamanya, hilang tersapu perasaan negatif.

“Tuhan menciptkan 2 tangan bukan untuk menutupi semua mulut orang, tapi untuk menutup kupingmu”

Itu kata teman saya yang katanya dia dapat dari temannya. Yang jelas tujuan utama Tuhan menciptakan 2 tangan bukan untuk itu.

Saya sendiri sangat merasa bersalah waktu itu, ketika saya nggak mau dihakimi oleh orang-orang tapi saya sendiri suka menjadi hakim untuk orang-orang. Saya merasa sangat munafik, akhirnya saya mulai belajar, bagaimana cara menerima kritikan orang-orang, jika benar jadiin instrospeksi, kalau salah bukan urusan saya.

Saya juga belajar bagaimana cara menjadi hakim yang baik dan benar. Lho emang menghakimi orang itu bisa dikatakan baik? Menurut saya, itu tergantung cara kita menghakimi orang tersebut. Kalo kita ngomongin orang tanpa didasari fakta atau barang bukti berarti kita cuma nggosip, dan jika menyimpulkan sesuatu dari situ dan menyebarkannya berarti itu sebuah fitnah, biar jadi urusannya dengan Tuhan.

Jadi sebelum jadi hakim, kita harus mengumpulkan bukti-bukti dulu, atau paling ngga sebuah sampel kata mas joe, karena pada dasarnya tabiat manusia sama saja. Saya kasih contoh aja biar gampang.

“Kamu selingkuh ya sama dia? kasian pacarmu disana udah percaya dan setia sama kamu”

bandingkan dengan

“Kamu sering jalan berdua, tapi katamu kalian nggak pacaran, apa karena kamu masih punya pacar?”

Menurut saya kedua kalimat itu jelas-jelas dibuat untuk menghakimi seseorang, tapi menurut saya lebih sopan kalimat yang kedua, menurut saya.

Terserah orang yang kita hakimi mau jawab atau tidak, dia punya hak untuk itu, tapi biasanya saya juga bakalan bilang “kalo kamu ngga jawab berarti saya anggap jawabannya adalah iya” dan saya lanjutkan dengan kalimat penghakiman yang lain sehingga saya mengerti apa yang terjadi dan tidak ada prasangka. Biasanya saya langsung tanyakan kepada orang yang bersangkutan, karena saya memang tidak suka ngomongin orang dibelakang, nggak baik, ntar dimarahin ibu.

Disini kita juga bisa melihat sikap orang yang kita hakimi, ada yang marah, justru itu malah membenarkan prasangka saya. Ada juga yang biasa saja dan tenang setiap menjawab pertanyaan saya, berarti dia sudah pintar dalam “menutup kupingnya” dari penghakiman orang-orang.

Terima saja kalau sebenernya kita sangat suka jadi hakim untuk orang lain, entah hanya didalam pikiran saja karena kita takut menyakiti hatinya yang justru malah membuat kamu berpikir negatif tentangnya dan menyakiti hatimu sendiri, ataupun kamu dengan berani bertanya langsung tanpa menggunakan emosi yang menggebu-gebu karena sangat ingin tau agar tidak menimbulkan prasangka yang tidak baik. Itu semua terserah anda.