“Kalau kamu bisa mencintai seseorang sampai tergila gila dan ga berhenti memikirkannya, kenapa tidak dengan Tuhan?”

Agaknya saya pernah mendengar kata-kata seperti itu, sindiran untuk para pujangga yang sedang dimabuk cinta. Sebenernya saya kurang setuju dengan hal itu. Cinta dengan Tuhan lebih baik jangan disamakan dengan kisah cinta antar sesama manusia.

Untuk mencintai seseorang kita disibukkan dengan mengenal orang itu, kepo sampai lupa diri. Kita lupa untuk mengenal diri kita sendiri seperti apa, pantaskah kita untuk dia? Yang kita pikirkan justru bagaimana kita menjadikan diri kita agar bisa dicintainya.

Sungguh jangan disamakan dengan Tuhan Yang Maha Agung. Kita hanyalah ciptaanNya, yang kadang merasa lemah atau bahkan hina, tapi Dia selalu hadir, meski kadang kita lupa