Baru semalam konser “Sinestesia” Efek Rumah Kaca digelar, saya datang bersama teman, ernes dan linatang. Dengan baik hati ernes bersedia mengantri penukaran tiket pagi-pagi agar kita bisa duduk dideretan terdepan dan pengorbanan dia pun tidak sia-sia. Kita ada dibarisan paling depan diantara penonton kelas 1, hanya terpisah empat baris vip dari panggung.

Walaupun harga tiket yang cukup mahal tapi itu semua terbayar dengan sempurna. Kita disugukan atraksi audio visual yang sungguh ciamik, dibawakan dengan sangat apik. Menghilangkan rasa rindu menikmati sajian musik efek rumah kaca secara langsung, penantian terbayar lunas membuat hati ini puas. Saat konser berlangsung kita dilarang mengambil gambar dengan menggunakan flash, lagian saya memang mau menikmati konser ini jadi saya memasukkan hp ke dalam tas agar tidak terganggu saat konser berlangsung.

“Tubuh Membiru Tragis” (Gambar dari twitter @efekrumahkaca)

Konser dibuka dengan lagu “Tubuh Membiru Tragis” dilanjutkan dengan “Mosi Tidak Percaya” lalu “Cinta Melulu”, pada lagu ini kita Cholil tidak ikut bernyanyi, hanya sebagai backing vokal, kita diberi keleluasaan berkaraoke ria diiringi alunan dari orchestra. Selanjutnya mereka membawakan “Balerina”, “Melankolia”, “Di Udara”, “Menjadi Indonesia”, “Desember”, “Jangan Bakar Buku”, “Laki-laki Pemalu”, “Hujan Jangan Marah” dan ditutup dengan “Sebelah Mata”. Sayang sekali lagu seperti “Menuju Ruang Hampa” dana “Cinta Melulu” tidak dibawakan, tapi tak apalah, itu saja sudah cukup membuat hati terpuaskan.

“Jangan Bakar Buku” (Gambar dari twitter @efekrumahkaca)
“Hujan Jangan Marah” (Gambar dari twitter @efekrumahkaca)

Segmen pertama berlangsung sekitar 1,5 jam, setelah itu mereka istirahat sekitar 15 menit dan mempersiapkan untuk memulai segmen kedua dimana mereka akan membewakan semua lagu dari album terbarunya “Sinestesia”. Segmen kedua saya belum hafal semua lirik lagunya karena begitu panjang dan kaya akan kosa kata yang masih baru buat saya. Saya hanya menikmati setiap alunan musik yang disajikan. Mereka membawakan sesuai dengan urutan seperti dialbumnya, “Merah”, “Biru”, “Jingga”, “Hijau”, “Putih” dan “Kuning”. Konser bubar sekitar jam setengah 12 malam. Konser terbaik yang pernah saya tonton, sungguh. Tapi sayangnya ada kabar bahwa ini konser terakhir mereka sebelum vakum panjang lagi.

“Merah” (Gambar dari twitter @efekrumahkaca)
“Biru” (Gambar dari twitter @efekrumahkaca)
“Jingga” (Gambar dari twitter @efekrumahkaca)
“Hijau” (Gambar dari twitter @efekrumahkaca)
“Putih” (Gambar dari twitter @efekrumahkaca)
“Kuning” (Gambar dari twitter @efekrumahkaca)
Foto dari http://irockumentary.com/ (@hartamurti @irockumentary)

Dan foto terakhir diatas ada saya lho…..ndak percaya? ini sya zoom

2
Ganteng kan? mayan bisa eksis bareng mas Cholil. Buat kamu yang pengen liat liat foto konser yang lebih bagus bisa ke sini http://irockumentary.com/photo-gallery/efek-rumah-kaca-konser-sinestesia/ oleh @hartamurti

Saya sendiri suka efek rumah kaca sudah sangat lama, saya didengarkan pertama kali lewat mp3 player milik ernes. Awalnya biasa saja lama lama jadi suka, saya download lagu-lagunya dari situs efekrumahkaca.net. Saya sangat salut sama mereka, diantara band-band lain yang berusaha mengejar pundi-pundi harta, mereka mencoba memberikan apa adanya, mereka mencipta apa yang mereka cinta, tujuan mereka adalah bahagia. ERK bermusik dengan hati, memberikan secara cuma-cuma tanpa mengharapkan royalti, meracuni setiap kuping pendengarnya. I’ll give you all my respect.