Taman Margasatwa Ragunan

Posted on

Minggu pagi, seperti biasa saya berusaha untuk konsisten untuk olahraga, biasanya jogging di kebun binatang ragunan. Untuk sekedar mengeluarkan keringat dan nikotin yang tertimbun dalam tubuh, Kalo lemak sih nggak terlalu banyak sepertinya, hahaha

Jogging di ragunan nikmat sekali, biasanya ga cuma keringat yang keluar tapi juga kebahagiaan. Ragunan masih asri dan bersih, apalagi pagi hari, udara masih sejuk, belum terlalu panas, lagipula banyak pohon-pohon yang menambah sejuk suasana pagi di ragunan. Lari-lari sambil melihat tingkah laku binatang di kandang, tak luput pandangan ke pelari yang lain terutama para gadis >:). Jaman sekarang sedikit sekali gadis yang mau bangun pagi dan olahraga. Ada juga sekumpulan orang, dipimpin instruktur cowo berkulit putih, tinggi, kekar, warga negara asing, saya amati mereka rutin tiap minggu melakukan berbagai exercises  di ragunan, pesertanya juga lumayan banyak. Setelah lelah memutari ragunan, satu putaran saja sudah cukup rasanya, saya lanjutkan dengan berjalan sekalian pendinginan sambil menikmati alam di ragunan. Setelah cukup dingin saya berhenti di depan taman air yang didalamnya berkeliaran bergerombol burung pelikan, burung dengan kaku yang menjuntai panjang dan paruh yang panjang. Taman ini tidak jauh dari pintu keluar masuk bagian utara, saya duduk sejenak untuk sekedar istirahat sembari mengamati tingkah makhluk hidup itu.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, ragunan sudah mulai ramai dengan pengunjung yang kebanyakan rombongan keluarga, bersiap untuk bertamasnya. Kebanyakan mereka membawa tas yang besar-besar, berisi makanan dan minuman, tidak lupa mereka membawa tikar, piknik keluarga. Mereka lebih suka membawa makanan dari rumah untuk disantap, lebih irit dan lebih enak pikirku. Kebanyakan dari mereka memang golongan menengah kebawah, karena ragunan memang tempat wisata yang murah, cuma empat ribu perak bisa menimati tingkah laku binatang dan lingkungan yang asri.

Pandanganku tiba-tiba terpaku ke seorang wanita, bersama keluarganya, dia bersama anak kecil, gadis kecil yang masih polos dan lucu, manis dan lugu tingkah lakunya, entah itu anaknya atau keponakannya, karena saya tidak melihat sesorang yang seperti suaminya, lebih tepatnya perasaan saya yang melihat. Wanita itu terasa berbeda, terlihat berkelas, anggun, cara berpakaiannya, mengenakan hijab, cara berjalannya yang tenang membuat saya terus memperhatikannya. Parasnya yang ayu, wajahnya terus memancarkan aura yang enak untuk dilihat, entak karena dia selalu terlihat tersenyum, tidak terlihat kusut, tidak tertawa tapi tersenyum. Terus tersenyum, bukan senyum yang dibuat-buat, memancarkan kedewasaan, kematangan. Alarm jam sudah berbunyi, tandanya sudah pukul sembilan, ragunan sudah mulai ramai dengan kerumunan orang, saatnya untuk pulang.

Malam Yang Syahdu

Posted on

Aku sungguh menikmati malam ini, entah kenapa, tak penting buat aku pikirkan, aku hanya ingin menikmati malam ini. Setelah terjadi keributan di lantai atas, ada yang berulang tahun, aku nggak kenal dan aku nggak peduli sebenernya. Hujan datang seiring keributan di lantai atas berhenti, sudah cukup leseruan malam ini buat mereka mungkin, masih ada malam-malam lain yang menanti keriangan mereka. Air berjatuhan dari langit berirama, menenangkan, mendinginkan bumi yang seharian kepanasan. Aku sengaja membiarkan pintuku terbuka, bukan karena ingin mendengar suara merdu hujan itu, tapi karena agar asap tidak berkeliaran liar di kamarku, membiarkan udara dingin yang bukan dari pendingin dari kamarku masuk, aku duduk di lantai, laptop dipangkuanku dan buku digenggamanku, sambil mendengar alunan musik dari radio dan diiringi suara hujan. Aku hanya ingin menikmati malam ini, malam yang syahdu, yang belum tentu setiap malam bisa kunikmati.